Selasa, 03 Juli 2012

TEORI BELAJAR

Teori Belajar Behaviorisme
Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.

Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :
1.        Connectionism (S-R Bond) menurut Thorndike.
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:
a.        Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus-Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus-Respons.
b.        Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
c.        Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.

2.        Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
a.        Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
b.        Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
 
3.        Operant Conditioning menurut B.F. Skinner
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
a.        Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
b.        Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

4.        Social Learning menurut Albert Bandura
Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini, seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.

Teori Belajar Kognitif menurut Piaget
Aspek-aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu tahap 
1)       sensory motor; 
2)       pre operational; 
3)       concrete operational dan 
4)       formal operational. Menurut Piaget, 
Bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
a.        Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
b.        Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
c.        Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
d.        Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
e.        Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.

Teori Belajar Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. 
Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :
a.        Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.
b.        Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
c.        Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.
d.        Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
e.        Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan; dan
f.         Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.

Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:
a.        Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”.
b.        Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).
c.        Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces, gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.
d.        Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.

Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
a.        Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
b.        Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
c.        Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
d.        Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
e.        Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

HAKIKAT PEMBELAJARAN IPA SD
Ilmu pengetahuan alam atau sains (science) diambil dari kata latin Scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan, tetapi kemudian berkembang menjadi khusus Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains. IPA/ Sains sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam. IPA (Sains) berupaya membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh dengan rahasia yang tak habis-habisnya.
Setidaknya ada lima cakupan yang harus dipelajari dalam pelajaran IPA di sekolah dasar. Keempat cakupan tersebut adalah:
1.        Konsep IPA terpadu
2.        Biologi
3.        Fisika
4.        Ilmu bumi dan antariksa
5.        IPA dalam perspektif interdisipliner 
Sampai saat ini, konten sains bagi kebanyakan guru diberikan melalui metode ceramah dan kegiatan pembuktian di laboratorium, dengan sedikit fokus terhadap pemberian pengalaman dalam melakukan penelitian atau aplikasi IPA dalam konteks teknologi. Peran guru di sini adalah melibatkan siswa dalam memanipulasi kegiatan yang mengarahkan pada pengembangan konsep melalui kegiatan investigasi dan analisis terhadap pengalaman.
Di bawah ini adalah karakteristik  pembelajaran IPA yang baik adalah guru diharapkan bisa:
1.        Memahami dan merespon minat, kekuatan, pengalaman dan keperluan siswa secara individual.
2.        Senantiasa menyeleksi dan mengadaptasi kurikulum.
3.        Berfokus pada pemahaman siswa dan menggunakan pengetahuan sains, ide serta proses inkuiri.
4.        Membimbing siswa dalam mengembangan saintifik inkuiri.
5.        Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk berdiskusi dan berdebat dengan siswa lain.
6.        Secara berkesinambungan melakukan asesmen terhadap pemahaman siswa.
7.        Memberikan bimbingan pada siswa untuk berbagai tanggung jawab dengan siswa lain.
8.        Mensuport pembelajaran kooperatif (cooperative learning), mendorong siswa untuk bekerjasama dengan guru sains lain dalam mengembangkan proses inkuiri.

PENDEKATAN TEORI-TEORI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPA SD
Berdasarkan uraian-uraian penjelasan yang terdapat dalam hakikat pembelajaran IPA, diperlukan teori belajar yang sesuai dengan karaketristik pembelajaran IPA. Teori belajar tersebut antara lain

A.     Teori Bruner
Bruner mengemukakan bahwa perkembangan intelektual anak mengikuti 3 tahap representasi yang berurutan, yaitu:
·     Enactive representation, segala pengertian anak tergantung kepada responnya;
·     Iconic representation, pola berfikir anak tergantung kepada organisasi visual (benda-benda yang konkrit) dan organisasi sensorisnya; dan
·     Simbolic reprentation, anak telah memiliki pengertian yang utuh tentang sesuatu hal, pada priode ini anak telah mampu mengutarakan pendapatnya dengan bahasa.
Bruner memandang manusia sebagai pemproses, pemikir, dan pencipta informasi. Menurut Bruner, inti belajar adalah cara-cara bagaimana manusia memilih, mempertahankan, mentransformasikan informasi secara aktif. Masih menurut Bruner, di dalam orang yang belajar, hal-hal yang memiliki kesamaan atau kemiripan dihubungkan menjadi struktur yang memberikan arti pada hal-hal yang dipelajari. Sebagaimana Piaget dalam pendidikan, Bruner juga menyarankan pendekatan child centered approach yang dihubungakan dengan belajar penemuan (discovery learning).
Implikasi Teori Bruner dalam proses pembelajaran IPA adalah :
a)      Menghadapkan anak pada suatu situasi yang membingungkan atau suatu masalah.
      Misal: Dalam pembelajaan materi bunyi, siswa dihadapkan dengan masalah apakah bunyi dapat merambat melalui benda padat.
b)      Dari masalah yang timbul anak akan berusaha membandingkan realita di luar dirinya dengan model mental yang telah dimilikinya.
      Misal: Anak akan mencoba melakukan percobaan sendiri.
c)      Dengan pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk mencapai keseimbangan di dadalam benaknya. Untuk itu siswa akan mencoba melakukan sintesis, analisis, menemukan informasi baru dan menyingkirkan informasi yang tak perlu. 

B.     Teori Konstruktivisme
Ide utama teori ini adalah:
·     Siswa secara aktif membangun pengetahuannya sendiri.
·     Agar benar-benar dapat memahami  dan dapat menerapkan pengetahuan siswa harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri;
·     Belajar adalah proses  membangun pengetahuan bukan penyerapan atau absorbsi;
·     Belajar adalah proses membangun pengetahuan yang selalu  diubah secara berkelanjutan melalui asimilasi dan akomodasi informasi baru.
Implikasi teori konstruktivisdalam proses pembelajaran, khususnya IPA adalah :
1)       Memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar hasilnya saja.
2)       Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri, keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran
3)       Menekankan pembelajaran top-down mulai dari yang komplek ke sederhana, dari pada bottom-up dari yang sederhana bertahap berkembang ke komplek.
4)       Menerapkan pembelajaran koperatif.
  
C.     Teori Piaget
Prinsip teori Piaget adalah:
·         Manusia tumbuh beradaptasi, dan berubah melalui perkembangan fisik, kepribadian, sosioemosional, kognitif, dan bahasa;
·         Pengetahuan datang melalui tindakan;
·         Perkembangan kognitif sebagian besar tergantung seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungan.
Konsep-konsep dasar proses organisasi dan adaptasi intelektual menurut Piaget, yaitu :
1.        Skemata, dipandang sebagai sekumpulan konsep;
2.        Asimilasi, peristiwa mencocokkan informasi baru dengan informasi lama yang sudah dimiliki oleh seseorang;
3.        Akomodasi merupakan anak untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan, terjadi apabila antara informasi baru dan lama yang semula tidak cocok kemudian dibandingkan dan disesuaikan dengan informasi lama; dan
Dalam hal ini lingkungan menuntut anak untuk melakukan sesuatu. Anak harus mengubah dirinya untuk melakukan hal itu, sebagai contoh, jika seorang anak menemukan sebuah benda yang menghalangi jalan bagi mainannya (mobil-mobilan misalnya), anak tersebut menemukan penyelesaian yang membuat dirinya dapat memudahkan benda yang menghalangi itu dan mainannya dapat berjalan lagi.
Implikasi teori Piaget dalam Proses Pembelajaran IPA, yaitu :
1)    Memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya tetapi juga prosesnya.
2)    Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri, keterlibatan aktif dalam pembelajaran, penyajian pengetahuan jadi tidak mendapat tekanan.
3)    Memaklumi adanya perbedaan individual, maka kegiatan pembelajaran diatur dalam bentuk kelompok kecil.
4)    Peran guru sebagai seorang yang mempersiapkan lingkungan yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman yang luas. 

D.   Teori Robert Gagne
Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Gagne beranggapan bahwa hirarki belajar itu ada, sehingga penting bagi guru untuk menentukan urutan materi belajar yang harus diberikan. Materi-materi yang berfungsi prasyarat harus diberikan terlebih dahulu. Keberhasilan siswa belajar kemampuan yang lebih tinggi, ditentukan oleh apakah siswa itu memiliki kemampuan belajar yang lebih rendah atau tidak. Menurut Gagne ada 8 tipe belajar, yaitu:
·     belajar isyarat,
·     belajar stimulus respon,
·     belajar merangkaikan,
·     belajar asoisasi verbal,
·     belajar diskriminasi,
·     belajar konsep,
·     belajar prinsip, dan
·     belajar pemecahan masalah
Kemampuan manusia sebagai tujuan belajar menurut Gagne dibedakan menjadi 5 kategori, yaitu :
a)       Keterampilan intelektual;
b)       Informasi verbal;
c)        Strategi kognitif;
d)       Keterampilan motorik; dan
e)       Sikap
Implikasi teori Gagne di dalam proses pembelajaran IPA:
Untuk mencapai hasil belajar yang demikian maka proses belajar mengajar harus memperhatikan kejadian instruksional yang meliputi:
Menarik perhatian, misalnya dalam materi penggolongan hewan, disertai dengan gambar-gambar binatang yag menarik dan cukup besar.
1.        Menjelaskan tujuan.
2.        Mengingat kembali apa yang telah dipelajari,
3.        Memberikan materi pelajaran,
4.        Memberi bimbingan belajar,
5.        Memberi kesempatan, misalnya: membiarkan siswa untuk menyimpulkan hasil percobaan.
6.        Memberi umpan balik tentang benar tidaknya tindakan yang dilakukan.
Misalnya: dalam percobaan uji protein, apakah benar untuk menguji kandungan protein pada makanan menggunakan larutan lugol.

DAFTAR PUSTAKA


Minggu, 21 September 2008

Analisis Anak Autisme

Pengertian
Autisme adalah suatu gangguan yang menyangkut banyak aspek perkembangan yang bila dikelompokkan akan menyangkut tiga aspek yaitu perkembangan fungsi bahasa, aspek fungsi sosial, dan perilaku repetitif.
Autisme adalah gangguan atau kecacatan yang akan disandang oleh individu tersebut seumur hidupnya.
Penyebab autisme
Sampai saat ini menurut JK Buitelaar, seorang professor psikiatri anak dari Universitas Nijmegen Negeri Belanda, Penyebab autisme masih belum bisa diketahui. Namun, banyak sekali publikasi di masyarakat yang justru datang dari pihak-pihak yang tidak didasarkan oleh penelitian ilmiah, Misalnya penyebab autisme karena thimerosal dalam vaksin, virus vaksin, keracunan logam berat, alergi terutama gluten dan kasein, sistem imun tubuh, dan sebagainya.
Sementara itu para ilmuwan yang berkecimpung dalam bidang autisme menyatakan bahwa kemungkinan besar penyebab autisme adalah faktor kecenderungan yang dibawa oleh genetik. Sekalipun begitu sampai saat ini kromosom mana yang membawa sifat autisme belum dapat diketahui. Sebab pada anak-anak yang mempunyai kondisi kromosom yang sama akan bisa juga memberikan gambaran gangguan yang berbeda.
Namun para ahli lebih cenderung akan menyatakan bahwa penyebab autisme kemungkinan besar adalah faktor gen yang membawa peranan, hal ini disimpulkan dari hasil penelitian terhadap kembar satu telur yang akan menunjukkan kemungkinan terjadinya gangguan autisme yang lebih tinggi secara signifikan bila dibandingkan dengan kembar dua telur.
Di kalangan luas juga ada publikasi yang mengatakan bahwa autisme dapat disebabkan berbagai gangguan di tiga bulan pertama kehamilan. Menurut Buitelaar hal ini juga masih belum bisa dikatakan apakah benar demikian, karena penelitiannya belum selesai,dan hasilnya belum ada.
Diagnosa dan Penanganan
Karena gambaran autisme begitu beragam dan setiap saat seorang anak akan senantiasa mengalami perkembangan, maka penegakan diagnosa tidak bisa begitu saja, sebab bisa saja kemudian diagnosa menjadi berubah-ubah dari waktu ke waktu. Untuk menghindari kekeliruan deteksi ini, maka diperlukan sekali pemeriksaan secara multidisiplin yaitu dilakukan oleh dokter, psikolog, orthopedagog, neurologis, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autisme.
Setelah dilakukan berbagai observasi secara berkala oleh berbagai profesi tadi, disamping juga dilakukan tes psikologi, dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh barulah diagnosa itu boleh ditegakkan. Penegakan diagnosa ini seringkali juga memerlukan waktu yang panjang, enam bulan hingga satu tahun. Namun yang terpenting adalah bukan penegakan diagnosa itu tetapi bagaimana kita mampu melihat berbagai gangguan sebagai faktor lemah yang dimilikinya, dan faktor kuatnya.
Dokter dan psikolog harus benar-benar mampu mengamati dengan baik. Orang tua diminta untuk dapat mengungkapkan dengan baik bagaimana perilaku anaknya tersebut dengan berpatokan pada gejala-gejala yang ditampilkan oleh anak-anak normal, sehingga dapat diketahui bagaimana penyimpangan yang terjadi. Setidaknya perlu adanya pengamatan berkala setiap tiga bulan, dilakukan evaluasi guna menentukan tindakan apa yang perlu kita perbaharui.
Diagnosa yang paling tepat adalah dengan cara seksama mengamati perlilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya.
Pengobatan
Pertanyaan tentang berbagai pengobatan autisme saat ini yang banyak digunakan bahkan seringkali juga atas anjuran dokter (yang bergerak dalam terapi alternatif), misalnya detoksifikasi untuk menghilangkan racun di otak, diet bebas gluten dan casein, probiotik, megadosis vitamin, hormon, dan sebagainya. Buitelaar menanggapi bahwa karena hingga kini penyebab autisme belum bisa dipahami secara pasti maka para dokter juga belum bisa menentukan obatnya.
Ia menyarankan agar para orang tua tak perlu terkesima dengan reklame komersial yang menyatakan bahwa autisme dapat diobati, sebab menurutnya selain pengobatan model intervensi biologis itu sangat mahal, tidak ada efeknya, juga cukup berbahaya bagi si anak sendiri. Bila dokter memberikan resep obat-obatan psikostimulan, hal itu bukan untuk menyembuhkan autisme, tetapi hanya sekedar untuk mengendalikan emosi dan perilakunya.
Yang terpenting adalah bagaimana kita harus menanganinya dengan cara melihat faktor lemah dan faktor kuatnya dengan pendekatan psikologi dan pedagogi, yaitu arahkan perilakunya, tingkatkan kecerdasannya, latih kemandirian, ajarkan kerjasama, dan ajarkan bersosisalisasi dan jangan berikan obat-obatan psikiatrik atau psikostimulan kepada anak-anak di bawah 6 tahun. Utamakan pendekatan psikologi dan pedagogi, jika cara-cara ini sudah tidak dimungkinkan barulah bisa diberikan obat- obatan. Para orang tua juga berhak menanyakan apa efek samping dan harapan apa yang bisa dicapai dengan menggunakan psikostimulan itu.Karena bagaimanapun reaksi setiap anak terhadap obat akan berbeda-beda, sehingga diperlukan pemantauan yang baik secara rutin. Di samping itu sampai saat ini belum ada penelitian obat- obatan pada anak di bawah usia 6 tahun, sehingga kita masih belum tahu efek jangka panjangnya.
Ciri-ciri
Pada anak-anak autisme selain ia mengalami gangguan komunikasi secara verbal, ia juga mengalami gangguan komunikasi nonverbal.
Komunikasi nonverbal adalah suatu komunikasi tanpa menggunakan kata-kata. Komunikasi nonverbal adalah bentuk komunikasi dengan cara membaca bahasa simbolik dan bahasa mimik. Pada anak autisme yang mengalami kegagalan perkembangan membangun kontak emosi tadi, dengan sendirinya juga ia mengalami kegagalan membaca bahasa mimik, karena bahasa mimik pada dasarnya adalah komunikasi dengan cara membaca emosi orang lain. Ketidakmampuan membaca emosi orang lain dalam bentuk ekspresi muka orang lain inilah yang kemudian menyebabkan anak-anak ini juga tidak mampu mengekspresikan wajahnya. Ia adalah anak yang tidak berekspresi, tidak mampu menunjukkan kehangatan, rasa senang atau marah.
Selain ia tak mampu mengutarakan emosinya ia juga kadang mengalami kesalahan dalam mengekspresikan perasaannya, atau ekspresinya tidak pada tempatnya. Padahal komunikasi nonverbal ini merupakan bentuk komukasi yang lebih banyak digunakan oleh kita sehari-hari, dalam membangun hubungan dengan orang lain. Dengan kata lain, sebagian besar komunikasi adalah berbentuk komunikasi non verbal. Dengan sendirinya kegagalan komunikasi nonverbal ini akan pula menyebabkan ia mengalami gangguan bersosialisasi, atau membangun hubungan sosial dengan orang-orang di sekitarnya.
Pada sebuah tes dengan anak autis yang lebih besar, di atas lima tahun, seringkali ia juga mengalami kegagalan membaca jalan pikiran orang, dan merasakan perasaan orang lain. Ia hanya mampu memakna kejadian-kejadian secara harafiah. Ia juga mengalami kegagalan dalam pengembangan bentuk fantasi dan imajinasi. Sehingga segalanya menjadi kaku atau rigid dan tidak fleksibel.
Pada anak-anak autisme ini juga mengalami kegagalan dalam melakukan memakna hubungan kejadian yang satu dengan yang lainnya. Jadi seringkali ia mampu mengumpulkan banyak informasi secara detil tetapi tidak mengerti apa fungsi setiap detilnya, dan konteksnya secara global. Karena kegagalan berbagai perkembangan dalam melakukan kontak dengan orang lain ini, ia juga akan bereaksi berbeda dari pada anak-anak normal lainnya.
Anak-anak ini juga sangat sulit menerima perubahan, sangat rigid, dengan ritual-ritual yang sulit dirubah. Kepada anak-anak ini perlu diajarkan bagaimana berperilaku fleksibel.
Kemampuan dan perilaku dibawah ini adalah beberapa kelainan yang disebabkan oleh autisme.
Komunikasi: Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat. Bersosialisasi (berteman)Lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. Tidak tertarik untuk berteman. Tidak bereaksi terhadap isyarat isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum. Kelainan penginderaan Sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. Bermain Tidak spontan / reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura. Perilaku Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. S

Di kaji dari berbagai sumber
Mata Kuliah Anak Berkebutuhan Khusus

Minggu, 07 September 2008

uksw


KALIMAT BERGAYA DAN BERVARIASI

KALIMAT BERGAYA
Kalimat efektif itu bertenaga. Ia memiliki suatu kekuatan mahagaib yang bisa menggerakkan tenaga, pikiran, maupun emosi pembaca. Kadang-kadang ia mampu menyuruh orang bertindak, membuat orang menangis, tertawa, meradang, atau merenung. Kalimat-kalimatnya yang kocak, kata-katanya yang memukau, memikat serta menguasai konsentrasi pikiran untuk membacanya terus sampai tamat.
Kenyataan yang ada pada penulis yang “baru mulai” adalah mereka terlalu disibuki oleh persoalan tentang “apa yang akan dikatakan” didalam karangan mereka. Sedang gaya kalimat tidak menitikberatkan persoalannya pada “apa yang hendak dikatakan”, tapi menekankan pada segi “bagaimana mengatakannya”.

1. Penulisan dengan Langgam Berbicara
Dalam mengarang, hendaknya menulis dengan langgam berbicara. Tak peduli apakah tulisan ini bersifat ilmiah, sepucuk surat, sebuah novel, dan sebagainya. Sebab pembaca tidak dibuatnya pasif, tapi mereka seperti diajak omong tentang sesuatu dan pada hakikatnya mengarang sama dengan berbicara atau omong.
Pada umumnya menurut studi bahasa gaya kalimat bertalian dengan tiga aspek, masing-masing
1. Aspek pemilihan kata
2. Aspek penyingkatan
3. Aspek yang menyangkut pola tertentu

2. Pemilihan kata
Faktor pemilihan kata turut menentukan tenaga sebuah kalimat. Pemilihan kata yang tepat dapat membuka “selera” pembaca seperti juga bumbu makanan yang dapat membuat orang makan lebih lahap. Untuk dapat membuka selera pembaca bahan yang diperlukan adalah kata atau kelompok kata tertentu.

2.1 Pilihan kata yang tepat
Dalam pilih memilih kata, yang penting supaya kata itu benar-benar mewakili apa yang kita maksud. Pertanyaan yang dalam hal ini sering berguna ialah “apa tak ada kata lain yang lebih tepat ?”. Dan seandainya ternyata ada yang lain segeralah menukarnya. Contoh :
Pemerintah bekerja keras menahan laju inflasi.
Pemerintah berusaha keras membendung laju inflasi.
Akhirnya saya paham apa yang ia maksud
Akhirnya saya mengerti apa yang ia maksud
Perbedaan arti kata pada kalimat-kalimat diatas itu tidak seberapa, namun efeknya penting untuk memberikan tenaga pada sebuah kalimat.

2.2 Menggunakan kata yang bertenaga
Didalam sebuah kata, yang sehari-hari sering kita gunakan, sebenarnya tersimpan suatu kekuatan. Dengan cara yang serasi digunakan dalam kalimat, kekuatannya itu bisa menghasilkan kalimat yang sugestif, mampu menggerakkan tenaga, pikiran, dan emosi orang.
Studi bahasa menunjukkan bahwa ada sejumlah kata yang sejak lahir sudah ditakdirkan memiliki tenaga kuat. Misalnya kata tendang lebih kuat dan kata sepak.
Rupanya antar fenom-fenom yang membentuk sebuah kata dengan tenaga kata itu memiliki hubungan erat. Begitu juga kata yang menunjukkan kerja atau gerak lebih bertenaga dari kata yang menunjukkan benda atau keadaan. Dan yang konkret lebih berkekuatan daripada yang abstrak.

Lemah : Ia melihat polisi sedang membongkar amunisi
Kuat : Ia menyaksikan polisi sibuk membongkar amunisi
Ada pula kata yang dapat dibuat lebih bertenaga dengan menggunakan morfem tertentu. Misalnya morfem me lebih bertenaga dari morfem di, dan mofem ter lebih bertenaga pula dari morfem ke, ber, atau kata yang tidak menggunakan morfem sama sekali.
Kurang bertenaga : Ketika berkemah banyak timbul kesan yang dapat dijadikan seribu kenangan.
Bertenaga : Ketika berkemah banyak muncul kesan yang dapat membawa seribu kenangan.

2.3 Hindarkan kata klise
Membaca dan menulis berarti bergaul dengan kata. Jika dalam suatu bacaan terdapat banyak kata yang kadang-kadang agak sukar dimengerti sering menimbulkan problem. Kata serupa ini disebut kata klise. Peranan kata klise ini besar untuk membuat kalimat kurang efektif, kecuali agaknya pada tempat yang sungguh-sungguh istimewa dan dengan cara yang istimewa pula.
Dalam bergaul dengan kata, selera pembaca zaman sekarang memang lain. Mereka senang dengan kata yang segar, yang mengungkapkan pengertian dengan jelas dan terang. Kejelasan itulah terutama yang membuat kaliamt mereka efektif, yang membuat pembaca sukarela menekuninya, yang menggerakkan hati dan emosi, yang menyuruh mereka merenung sekali-kali, atau tersenyum sendirian.

2.4 Konotasi dan Denotasi
Arti sebuah kata bisa menjadi dua macam. Pertama bersifat obyektif, masih asli, betul-betul menunjuk kepada obyek yang diwakilinya. Misalnya kata terbang dalam kalimat Burung terbang di udara. Disini kata terbang betul-betul menunjuk kepada suatu proses gerak yang terjadi di awang-awang, melayang dengan menggunakan sayap. Tapi lain sekali dengan kata terbang dalam kalimat Cepat, ia terbang ke balik pintu, bersembunyi sambil mengintip. Disini kata terbang tidak lagi asli seperti dalam kalimat yang pertama. Dalam hal ini, kata terbang sudah punya arti lain, sudah keluar dari artinya semula, sudah diberi “warna” oleh sikap dan emosi orang yang menggunakan kata itu.
Sifat netral yang dimiliki arti sebuah kata, seperti kata terbang dalam contoh pertama tadi, disebut arti denotatif. Dan kata yang tidak menyarankan arti lain di luar obyek yang diwakilinya itu disebut denotasi. Sebaliknya, sebuah kata yang telah diwarnai oleh sikap tertentu, seperti kata terbang dalam contoh yang kedua tadi, sudah mempunyai arti konotatif. Dan sikap emosi tertentu yang disarankan oleh sebuah kata disebut dengan istilah konotasi.
Jadi, kata yang denotatif lebih bersifat rasional dan kata konotatif lebih bersifat emosional. Kata setan, iblis, malaikat, bisa mempunyai arti denotatif dan bisa pula konotatif, bergantung pada ada tidaknya unsur emosi dengan sikap tertentu yang diberikan pada kata itu.
Ilmu kesusastraan telah berusaha menginventarisasikan berbagai bentuk pemberian konotasi pada kata. Gaya bahasa yang dihasilkannya disebut dalam berbagai macam istilah sesuai dengan sifatnya. Misalnya ada gaya personifikasi, pleonasme, hiperbola, litotes, eufimisme, paradoks dan sebagainya.

2.5 Kata yang tidak families
Tidak semua kata familier bagi kalangan masyarakat luas. Kata yang tidak familier itu pada umumnya adalah istilah asing atau kata yang berasal dari bahasa daerah. Lama-lama, setelah itu masyarakat dari berbagai kalangan telah turut menggunakannya, kata-kata itu dapat berubah menjadi milik umum. Biasanya masyarakat tidak lagi menganggap kata itu sebagai barang asing. Tapi proses ini memerlukan waktu.
Pemakaian kata yang belum familier di kalangan umum, besar sekali pengaruhnya terhadap tenaga sebuah kalimat. Lebih-lebih kalau jumlahnya banyak, tenaga kalimat bisa lemah karenanya. Kata itu bisa membuat pembaca lesu, bosan, kesal dan sebagainya, terutama apabila pengertian kalimat itu menjadi kabur akibat kata tersebut. Bagi pembaca, kalimat itu tidak lagi efektif dari sudut pengarang merupakan suatu pemborosan energi. Kata itu juga akan menjadi kurang fungsional, bahkan mengganggu kekompakan kata lain yang sama-sama beroperasi didalam kalimat itu.
Beberapa ketentuan dalam penggunaan istilah asing untuk menghindari efek negatif terhadap kalimat, antara lain :
1. Istilah asing dapat digunakan sepanjang istilah indonesianya belum ada.
2. Menyesuaikan ejaannya dengan ejaan bahasa Indonesia.
3. Menyesuaikan bentuk kata itu dengan morfologi bahasa Indonesia.

3. Penyingkatan
Penyingkatan dapat menghasilkan kalimat yang lebih bertenaga. Mengadakan penyingkatan adalah cara yang efektif untuk menghasilkan sebuah karya tulis yang efektif dan efisien. Pada umumnya tindakan penyingkatan itu bersifat merombak dan memperbaiki kalimat yang sudah jadi. Mana yang terlalu panjang, yang
mengabukan arti, dipenggal menjadi dua atau lebih. Ini biasanya ditujukan terhadap konsep pertama, dengan catatan apabila memang dirasakan ada kalimat-kalimat yang membingungkan akibat “berpanjang-panjang” ini. Kalimat itu kemudian disederhanakan.
Proses mengarang melalui beberapa fase atau tingkat. Secara kronologis, tingkat yang dimaksud adalah sebagai berikut. Mula-mula membuat rencana dengan mengurutkan topik kecil-kecil yang akan dipaparkan, lalu disusun supaya ada hubungan logis. Kemudian pengarang berusaha melengkapi bahan, biasanya melalui bacaan atau wawancara supaya tulisan itu “berisi”. Dalam kedua fase ini tentu ada pula kegiatan kecil-kecil, seperti mengambil catatan terhadap bahan yang dibaca dan sebagainya. Kemudian dilanjutkan pada proses menulis yang sesungguhnya berdasarkan rencana yang disusun tadi. Hasilnya disebut konsep pertama.
Tindak lanjut berikutnya ialah mengadakan revisi. Pekerjaan ini luar biasa pentingnya. Yang terpenting ialah mematut-matut kembali gaya kalimatnya. Kalau ada kaliamt yang dirasa kurang perlu, sebaiknya buang saja. Yang canggung tentu dilancarkan, yang keras dilembutkan, kata yang tidak fungsional, keluarkan, dan kalimat atau pengungkapan yang berpanjang-panjang singkatan.
Ada tiga macam kategori penyingkatan yang umum ditemui. Pertama, penyingkatan yang bersifat merombak struktur kalimat. Kedua, penyingkatan kata atau bagian kata yang dirasa kurang perlu. Dan ketiga, “penyunatan” ungkapan yang berkepanjangan.

3.1 Penyingkatan kalimat
Dalam konsep pertama, munculnya kalimat panjang lumrah sekali. Ini sebetulnya bukan masalah, asalkan kemudian dilakukan usaha penyingkatan. Tindakan ini sangat perlu, lebih-lebih terhadap kalimat permulaan dalam sebuah alenia. Penyingkatan itu pasti akan memberikan efek yang lebih baik. Sebab, kalimat yang lebih pendek lebih jelas dan terang maksudnya dibanding kalimat yang lebih panjang.
Kalimat mula dalam sebuah alenia sebaiknya berupa kalimat sederhana atau kalimat tunggal. Sebab, kalimat itu memberikan pengaruh bagi pembaca dalam menangkap gagasan apa yang hendak dibicarakan penulis dalam alenia itu. Selain itu, kalimat sederhana itu sebaiknya sebuah pernyataan atau pertanyaan yang bersifat umum, sebuah generality, tidak berisi perincian atau detil.
Penyingkatan kalimat bertujuan untuk membuat kalimat lebih bertenaga, untuk menolong pembaca agar terbuka selera dan minatnya untuk terus membacanya dengan kemauan sendiri. Seorang penulis yang efektif tidak akan menyatakan sesuatu dalam dua atau tiga tarikan napas atau lebih. Dan disinilah masalah penyingkatan kalimat memainkan peranannya.

3.2 “Penyikatan” kata
Dalam membuat kalimat lebih bertenaga, “menyikat” habis kata yang kurang perlu juga biasa dilakukan oleh penulis ternama sekalipun. Sasarannya adalah kata yang berlebih, yang kurang jelas fungsinya didalam kalimat. Kata yang fungsinya kurang jelas perlu disingkirkan dari dalam kalimat. Kalau tidak, kekompakan kata akan terganggu karenanya, berganti dengan kecanggungan yang kurang mengenakkan.
Seringkali pemakaian kata yang berlebih itu terjadi karena ingin memberikan penekanan yang tidak perlu. Kadang-kadang juga disebabkan kebiasaan mengiringi sebuah kata dengan sinonimnya.
Dalam menggunakan kata depan, orang juga sering terpeleset pada kelebihan penggunaan kata. Misalnya dalam pemakaian kata dari, pada, dariapda, oleh, dan sebagainya. Kerap kita baca : Peristiwa itu sudah diketahui oleh Presiden. Akan lebih dinamis kalau disebut Peristiwa itu sudah diketahui Presiden.
Selain itu, bentuk penyikatan yang lain dapat pula dilakukan terhadap morfem yang kurang efektif. Contoh :
Mudah-mudahan hal ini ada kemanfaatannya
Mudah-mudahan hal in ada manfaatnya


3.3 Pembabatan pengungkapan yang berkepanjangan
Bentk lain penyingkatan ialah “membabat” pengungkapan yang berkepanjangan. Biasanya sasaran penyingkatan ini berupa kelompok kata; mengubahnya menjadi bentuk yang lebih singkat dan padat. Pengungkapan kata yang berkepanjangan seringkali menyebabkan sebuah kalimat kurang bertenaga. Bentuk pengungkapan berkepanjangan antara lain :
Berkepanjangan
Disingkat
- Menjadi sebab
- Mengambil keputusan
- Memainkan peranan
- Untuk menyebabkan
- Untuk memutuskan
- Untuk berperan

4. Pola yang efektif
Pola yang efektif sebetulnya tidak ada. Yang ada ialah cara yang efektif dalam mengisi pola itu, guna merangkaikan maksud dengan jelas. Dan cara yang efektif itu akan melahirkan kalimat yang efektif pula. Itulah sebabnya pola yang baik bukan merupakan tujuan dalam menghasilkan sebuah karya tulis. Pola yang betul itu hanya sekedar alat, agar unsur yang ada didalam bangun kalimat itu saling bekerja sama dengan baik. Dan menyangkut dengan gaya kalimat, soalnya bagaimana agar unsur yang mewakili pikiran utama tetap tertonjol, bukan sebaliknya.
Terutama pada kalimat luas yang berisi sebuah ruas utama untuk menghasilkan kalimat yang berkekuatan, posisi ruas utama itu hendaknya diperhatikan, agar ia tetap terpancang dengan jelas.

4.1 Paralelisme
Dalam kalimat yang efektif, gaya paralelisme menempatkan unsur yang setara dalam konstruksi yang sama. Konstruksi yang seharian dan yang sejalan itu biasanya menampakkan diri dalam hal berikut : sama-sama berbentuk kata kerja, sama-sama berbentuk kata benda. Atau untuk lebih jelasnya, kalau berawalan me sama-ama berawalan me, berawalan di sama-ama berawalan di, dan kalau berbentuk ke – an sama-sama berbentuk ke – an pula. Contohnya :
Yang dilakukan selama ini di kampung ialah mengurus harta pusaka, menyudahkan sawah, menjenguk sanak famili, dan membersihkan kuburan nenek.
Seorang penulis yang efektif biasanya pintar memanfaatkan gaya paralelisme untuk membuat kalimat mereka indah dan menyenangkan. Sebaliknya, kaliamt yang tidak mempedulikan keselarasan dan keserasian ini akan terasa canggung dan mungkin juga mengaburkan pengertian.

4.2 Repetisi
Kekuatan sebuah kalimat dapat pula dibangkitkan dengan mengulang sebuah kata yang dianggap penting dalam bagian kalimat. Dalam gaya bahasa disebut repetisi. Misalnya :
Rajin membaca, rajin memperhatikan, rajin mengarang, bisa menjamin kemenangan di kemudian hari.
Tidak seluruh pengulangan itu dapat dikatakan repetisi yang efektif. Berkali-kali mengulang kata yang tidak perlu diulang dapat pula menghasilkan kalimat yang lemah dan tidak menarik. Kata yang sering diulang biasanya akan mengurangi tenaganya, kecuali kalau ada ide penting yang perlu ditekankan untuk minta pembaca.

4.3 Inversi
Acap kali kalimat efektif dapat diusahakan dengan membalikkan pola dasarnya. Kalau struktur biasa punya urutan subjek + predikat, maka dalam bentuk inversi jadi terbalik : predikat + subjek. Artinya, dalam pola dasar kalimat itu predikat muncul lebih dulu, lalu di bagian belakangnya muncul subjek. Misalnya :
Sudah berkali-kali tersiar namanya dalam surat kabar ibukota.
Kabarnya betul-betul pening kepalanya menghadapi persoalan itu.
Inversi termasuk sejenis gaya kalimat. Tujuannya seperti juga tujuan gaya kalimat yang lain. Tujuannya untuk memberikan efek yang lebih besar. Dalam gaya inversi, pengarang ingin menonjolkan suatu keadaan mengenai pokok pembicaraan. Jadi, masalah inversi hanyalah soal penekanan saja. Pola kalimat tidak berubah, hanya letak unsur wajibnya yang bertukar; predikat dulu baru subyek.

4.4 Posisi frase dan klausa
Posisi sebuah frase maupun klausa ada kalanya mempengaruhi kekuatan sebuah kalimat. Sebuah frase atau sebuah klausa yang ditaruh dibagian belakang sebuah kalimat, pengaruhnya akan lain daripada menaruhnya di bagian depan. Contoh :
Posisi belakang
Harta bendanya disita lantaran orangnya banyak di bank .
Posisi depan
Lantaran utangnya banyak di bank, harta bendanya habis disita.
Sepintas tidak ada perbedaan yang berarti antara kedua bentuk frase atau klause yang diletakkan pada bagian depan maupun belakang, pengertiannya sama saja. Tetapi dari sudut efek yang ditimbulkannya, perbedaan urutan atau perlainan posisi frase dan klausa tadi sedikit mengandung persoalan. Apabila frase dan klausa ditampilkan lebih dahulu, berarti pembaca diberi waktu menyiapkan dirinya untuk menangkap ide sentral kalimat itu. Jadi, pembaca ditempatkan pada situasi yang agak sedikit menegangkan sebelum berhadapan dengan inti pikiran dalam kalimat itu.

4.5 Aktif dan Pasif
Kalimat aktif jelas lebih kuat dari kalimat pasif. Kalimat menunjukkan suatu proses dimana subyek melakukan suatu tindakan atau perbuatan. Dengan demikian predikatnya pasti sebuah kata yang menunjukkan kerja atau perbuatan dan bukan menunjukkan keadaan. Kata yang menunjukkan kerja atau perbuatan tindakan dan sebagainya, lebih kuat dari kata yang menggambarkan keadaan. Contoh :

Aktif
Pasif
· Mereka mulai meneruskan perjalanannya.
· Tiba-tiba ia memalingkan mukanya ke kiri
· Perjalanan mulai diteruskan mereka
· Tiba-tiba mukanya dipalingkannya kekiri

Contoh ini memberi kita petunjuk tentang beberapa hal. Pertama, sebuah kalimat pasif dapat diubah menjadi sebuah kalimat aktif dan begitu pula sebaliknya. Kedua, kalimat aktif lebih bertenaga daripada kalimat pasif. Ketiga, dalam sebuah kalimat aktif, subyek melakukan pekerjaan, sedang dalam kalimat pasif, subyek dikenal oleh perbuatan. Keempat, kaliamt aktif ditandai oleh predikatnya yang terdiri dari kata kerja, sedang kalimat pasif, predikatnya bukan menunjukkan perbuatan melainkan keadaan. Dalam hal ini, morfem me dan morfem di dapat membedakannya dengan tajam :

Aktif
Pasif
· Meneruskan
· mendirikan
· memecahkan
· Diteruskan
· Didirikan
· Dipecahkan

Selain menggunakan morfem di, sebuah predikat kalimat pasif juga bisa terbentuk oleh morfem ber, ter, serta morfem kombinasi ke-an.
Aktif
Pasif
· Langit memperlihatkan cahaya merah keabu-abuan.
· Suaranya yang merdu itu benar-benar mempesonakan kami.
· Langit kelihatan merah keabu-abuan.
· Kami benar-benar terpesona oleh suaranya yang merdu itu.

4.6 Aposisi
Aposisi juga menyangkut pola kalimat dan turut mempengaruhi kekuatan kalimat itu. Misalnya seorang pengarang menulis : Buku itu kalau jadi diterbitkan akan merupakan bacaan yang baik sekali untuk anak-anak. Kelompok kata kalau jadi diterbitkan sebetulnya tidak pada tempatnya ditaruh disana. Tanpa kelompok kata itu kalimat tetap jalan, bahkan jelas lebih berwibawa : Buku itu akan merupakan bacaan yang baik sekali untuk anak-anak. Tetapi pengarang merasa perlu menggunakan kelompok kata tersebut, karena ada hubungannya dengan faktor lain. Maka cara yang efektif telah disepakati begini :
Buku itu – kalau jadi diterbitkan – akan merupakan bacaan yang baik sekali untuk anak-anak.
Konstruksi seperti itulah yang dimaksud dengan istilah aposisi, yaitu – dengan menggunakan tanda tertentu – menyisipkan sekelompok kata atau lebih ke dalam kalimat yang strukturnya sudah betul.





BAB III
KALIMAT BERVARIASI
Kalimat yang efektif itu bervariasi. Di dalam sebuah alinea kalimat yang bervariasi itu merupakan “santapan” yang menarik dan nikmat. Kalimat itu dapat meriangkan pembaca, bukan saja karena memahaminya mudah, tetapi terutama karena sifatnya yang menyenangkan. Dengan demikian mampu membuka selera pembaca.
Pada hakikatnya seorang penulis adalah seorang pembaca. Dan seorang penulis yang efektif otomatis merupakan seorang pembaca yang terbaik. Ia menyadari, membaca merupakan sejenis kerja mental yang bera; memahami maksud sebuah bacaan memang sering kali sukar. Biasanya penulis yang baik itu selalu ingat, membaca itu meletihkan, membosankan, dan acap kali orang merasakan perbuatan membaca sebagai beban mental yang tidak selalu menyenangkan. Oleh sebab itu, pengarang sedapatnya berusaha menghalau keletihan dan kebosanan tadi.
Yang menjadi pangkal persoalan disini ialah bagaimana agar alinea demi alinea dari bacaan yang kita buat itu cukup menarik untuk dibaca. Penulis profesional umumnya mengusahakan hal itu melalui variasi kalimatnya, terutama dalam segi :
(1) cara memulainya,
(2) ukuran panjang singkatnya,
(3) struktur atau polanya, dan
(4) jenisnya.






1. Variasi dalam Cara Memulai
Kalimat pada umumnya dapat dimulai dengan :
(1) subyek,
(2) predikat,
(3) sebuah kata modalitas,
(4) sebuah frase,
(5) sebuah klausa, dan
(6) penekanan yang efektif.
Penulis yang berpengalaman, menggunakan cara di atas untuk menghasilkan alinea yang kalimat-kalimatnya bervariasi. Agar lebih jelas, marilah kita lihat penjelasan berikut ini.

1.1 Memulai Kalimat dengan Subyek
Perhatikan contoh berikut, yang semuanya dimulai dengan subyek:
a. Mencari kekayaan bukanlah hal yang tidak halal.
b. Mencari kekayaan adalah hal yang normal.
c. Orang kaya bukanlah orang yang jahat.
d. Tuhan tidakkah akan memberkati orang yang bekerja dengan tekun dan jujur?
Kalimat yang dimulai dengan cara subyeknya terletak di bagian depan, sangat banyak dipakai dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Ini merupakan cara yang umum dan barang kali orisinal di dalam memulai kalimat. Maka cara-cara lain dalam memulai kalimat adalah merupakan variasi saja dalam menghasilkan komunikasi yang efektif.
Di dalam suatu karangan, tegasnya di dalam sebuah alinea, kalimat itu sudah lain situasinya, dibanding ketika berdiri sendiri-sendiri. Di dalam sebuah karangan, kalimat itu sudah terikat oleh hubungan kerja sama, suatu situasi, dan suatu tema atau topik. Situasi itu langsung mempengaruhi pembaca. Jadi efek yang ditimbulkan bukan lagi oleh masing-masing kalimat, melaiankan situasi yang membentuk kerja sama tadi. Kerja sama yang lancar akan memberikan kesan yang menyenangkan. Dan sebaliknya kerja sama yang tidak lancar, kaku memberikan kesan yang kurang ramah, dan menegangkan. Variasi dapat menciptakan keramahan dan menghalau ketegangan.

1.2 Memulai Kalimat dengan Predikat
Untuk menciptakan variasi dalam sebuah alinea, kalimat dapat diawali dengan predikat. Dapat pula dimulai dengan membalikkan predikat ke depan, kemudian subyeknya menyusul dan seterusnya disusul lagi dengan bagian-bagian kalimat yang lain. Kalimat yang dimulai dengan predikat itulah yang disebut inversi. Unsur inversi bukan hanya terdapat pada permulaan kalimat, tetapi bisa juga di tengah.

1.3 Memulai Kalimat dengan Sebuah Kata Modal
Untuk memberikan variasi kalimat dalam sebuah alinea penulis dapat menggunakan sebuah kata modla untuk mengawali kalimatnya. Perbandinga di bawah ini dapat memberi petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai kalimat yang diawali dengan sebuah kata modal.

Dengan Sebuah Kata Modal

Dengan Subyek
Agaknya persoalan itu akan cepat selesai kalau yang berwajib ikut turun tangan.

Persoalan itu Agaknya akan cepat selesai kalau yang berwajib ikut turun tangan.
Banyak ia menemui kesukaran ketika menyelesaikan tugas itu.

Banyak ia menemui kesukaran ketika menyelesaikan tugas itu.
Tiba-tiba aku teringat suatu peristiwa yang aku sendiri sudah lama berusaha melupakannya.

Tiba-tiba aku teringat suatu peristiwa yang aku sendiri sudah lama berusaha melupakannya.

Semua kata yang dicetak tebal berfungsi sebagai kata modal dalam kalimat yang bersangkutan. Di dalam bahasa Indonesia, cukup banyak kata yang dapat berfungsi selaku modal. Fungsinya ialah untuk untuk memberi warna, sehingga pengertian kalimat itu seluruhnya dapat diubah. Berbagai macam sikap bisa kita lukiskan menggunakan kata modal di dalam sebuah kalimat: keragu-raguan, kepastian, kesungguhan, keharusan, keharuan, dan sebagainya.
Untuk menyatakan keragu-raguan : agaknya, barangkali, kira-kira, mungkin, rsanya.
Untuk menyatakan kepastian: tentu, pernah, pasti, jarang, betul, sekali-kali, sering.
Untuk menyatakan kesungguhan: sungguh, sesungguhnya, sekali-kali, benar, sebenarnya, lambat-laun, lama-lama.
Demikian antara lain bentuk kata modal, baik di tengah-tengah kalimat maupun untuk memberikan variasi dalam memulai sebuah alinea.sebuah kata yang bisa mengubah arti keseluruhan sebuah kalimat, maka kata itu dapat digolongkan sebagai kata modal dan dapat ditempatkan pada posisi awal sebuah kalimat. Namun kata itu bukanlah sebuah subyek dan bukan pula predikat.

1.4 Memulai Kalimat dengan Sebuah Frase
Kalimat yang diawali dengan sebuah frase dapat pula digunakanuntuk keperluan variasi di dalam sebuah alinea. Kalimat yang dimulai dengan frase dapat ditempatkan pada permulaan alinea,di tengah atau pada bagian akhirnya. Di dalam sebuah alinea terdapat lebih dari satu kalimat yang diawali dengan sebuah frase. Namun yang menjadi soal di sini bukanlah segi banyaknya, melainkan pemanfaatan sebuah frase dalam variasi kalimat.
Anda, mungkin akan menemukan bermacam-macam frase pada awal kalimat, dan semuanya dapat dilihat dari sudut variasi, untuk lebih jelas, perhatikan contoh dibawah ini ;
Sambil menghapus air mata, anak itu terus membuntuti ibunya.
Sampai batas-batas yang luas, filsafat boleh dikatakan merupakan suatu hasil pemikiran yang bebas.
Pada musim panas tahun 1969, saya bersama keluarga bepergian keliling dunia dari Tokyo ke Inggris.
Semua kelompok kata yang dicetak tebal pada contoh di atas di sebut frase. Karena letaknya di bagian depan maka disebut frase depan. Sebuah frase tidak selamanya terdapat di depan kalimat, melainkan bisa juga di tengah atau di akhir kalimat. Berikut ini adalh contoh frase yang menempati posisi tengah dan akhir.
Anak itu terus membuntuti ibunya sambil menghapus air mata.
Filsafat sampai batas-batas yang luas boleh dikatakan merupakan suatu hasil pemikiran yang bebas.
Saya bersama keluarga bepergian keliling dunia dari Tokyo ke Inggris selama musim panas tahun 1969.
Tata bahasa biasanya mengajarkan berbagai macam keterangan predikat yang sering kali kita lihat dalam bentuk frase. Diantaranya ada yang bernama keterangan waktu, keerangan sebab, keterangan perihal, keterangan kualitas dan banyak istilah yang lain.
Tata bahas juga membuat perbedaan antara frase dan kalimat. Pertama, frase itu sering kali merupakan bagian dari sebuah kalimat. Kedua, sebuah frase belum memiliki pengertian yang lengkap. Dan ketiga, di dalam sebuah frase tidak terdapat subyek dan predikat.

1.5 Memulai Kalimat dengan Sebuah Klausa
Memulai kalimat dengan sebuah klausa termasuk salah satu cara pula untuk menciptakan adanya variasi. Seperti juga sebuah frase, sebuah klausa juga bisa menempati posisi awal sebuah kalimat. Seuah klausa hanya ditemui di dalam kalimat luas, tidak soal apakah letaknya di depan, di tengah, atau di belakang. Namun untuk keperluan variasi kalimat di dalam sebuah alinea klausa bisa di gusur ke bagian depan. Contoh kalimat yang dimulai dengan sebuah klausa ialah:
Dalam lapangan apa pun kita bekerja, perbuatan kita sehari-hari akan lebih banyak ditentukan oleh apa yang kita dengar daripada apa yang kita lihat, kita rasakan, dean sebagainya. (Drs. Jazir Burhan)
Seandainya manusia tiada berbahasa, alangkah sunyinya dunia ini. (W.J.S. Poerwadarminta)
Kalau pertumbuhan bahasa Indonesia dibiarkan semaunya saja seperti selama ini, bahasa Indonesia akan jatuh kembali hanya menjadi bahasa pergaulan saja. (Ajib Rosidi)
Dalam contoh ini, semua kelompok kata yang dicetak tebal adalah sebuah klausa. Tata bahasa juga membuat perbedaan antara klausa dan sebuah frase. Perbedaan itu dapat dilihat dalam perbandingan di bawah ini:
Klausa

Frase
Dalam lapangan apapun kita bekerja

Dalam lapangan olahraga
Walaupun umurnya sudah tua

Walaupun demikian
Seandainya manusia tiada berbahasa

Kalau begitu
Jika karangan telah selesai ditulis

Jika telah selesai

Jelaslah bahwa antara klausa dan frase terdapat sedikit perbedaan. Di dalam sebuah klausa terdapat unsur subyek dan predikat, sedangkan frase tidak. Klausa adalah sebuah kalimat yang telah dimasuki oleh sebuah kata penghubung. Bila kata penghubung itu dihilangkan sebuah klausa akan berubah menjadi sebuah kalimat sederhana. Contoh:
Klausa

Kalimat
Walaupun umurnya sudah tua

Umurnya sudah tua.
Pada waktu kami sampai di sekolah

Kami sampai di sekolah.
Karena semua sudah selesai

Semuanya sudah selesai.
Sebelum orang tuanya meninggal

Orang tuanya meninggal

Kata penghubung yang sering digunakan dalam membentuk sebuah klausa misalnya kata setelah, seandainya, ketika, lantaran,. Agar, sekalipun, bagaikan, dan kata lain yang sekeluarga.
wadarminta)
ini. kan lebih banyak ditentukan oleh apa yang kita dengar daripada apa yang kita lihat, kita rasakan,
1.6 Memulai Kalimat dengan Penekanan yang Efektif
Kalimat di dalam sebuah alinea bukan tidak pernah dimulai dengan subyek saja. Ini bukanlah suatu kekecualian. Bila terdapat sebuah alinea yang kalimatnya selalu diawali dengan subyek, itu menandakan ada efek lain yang inga\in dikejar penulisnya. Walaupun ini tampaknya bertentangan dengan prisip-prinsip variasi, tapi untuk memburu keefektifan, tidak ada salahnya. Bahasa tidak diikat oleh keteraturan-keteraturan yang kaku. Bila perlu, sanggup melawan prinsip demi fungsinya sebagai alat komunikasi. Bila suatu cara dianggap efektif untuk suatu maksud, dan itu perlu dilaksanakan, maka di sana ketentuan-ketentuan tata bahasa atau ketentuan-ketentuan apapun tidak berdaya menghalanginya. Didalam bahasa memang sering terjadi dari norma-norma. Terjadinya penyimpangan itu adalah karena keinginan memburu efek yang maksimal, sehingga mampu memberikan gambaran yang senyata-nyatanya. Penekanan ini, ternyata efektif, lalu kita sebut penekanan yang efektif.



2 Variasi dalam Panjang-pendek Kalimat
Variasi kalimat bisa pula diusahakan dengan sekaligus mempergunakan kalimat pendek dan kalimat yang agak panjang dalam sebuah alinea. Kalimat panjang maupun singkat mempunyai nilai sendiri-sendiri. Kerjasama kedua kalimat yang berbeda ini biasanya dapat menghalau kejemuan, keletihan, dan sebaliknya bisa memberikan tenaga yang memikat juga.

2.1 Keefektifan kalimat Singkat
Kalimat singkat memainkan peranan tertentu dalam sebuah karangan. Misalnya dalam sebuah alinea kalimat singkat tidak sama tugas serta fungsinya dengan kalimat panjang. Kalimat singkat biasanya bertugas menyatakan penegasan atau kepastian. Terutama dalam karangan yang bersifat argumentatiff, fungsi kalimat itu jelas sekali. Bila ada suatu sikap yang perlu ditegaskan atau suatu kepastian yang perlu dinyatakan, kalimat singkatlah yang melaksanakan. Disamping memberikan variasi, kalimat singkat juga akan menjadikan karangn lebih komunikatif.

2.2 Keefektifan Kalimat Panjang
Tiap penegasan tentu memerlukan uraian dan perincian. Inilah terutama tugas serta fungsi kalimat panjang dalam sebuah alinea. Tugas kalimat panjang yaitu harus memberikan uraian, ulasan, analisa, detil, alasan tertenru, data, dan lain sebagainya. Memang kalimat panjanglah yang lebih tepat untuk tugas ini buat memperjelas,memerinci, supaya segala sesuatunya menjadi lebih terang serta meyakinkan.
Bagaimana kalimat yang lebih panjang memberikan uraian, perincian, ulasan, fakta, dan sebagainya. Agar lebih jelas, perhatikan contoh yang ditampilkan dengan menderetkannya ke bawah, supaya lebih mudah membandingkannya.
Menekankan : è Bertemu dengan buku tak ubahnya bertemu dengan seorang manusia.
Merinci : è Kita boleh suka atau tidak suka kepadanya, setelah mengadakan pertemuan dengan seseorang, tapi terlebih dahulu kita harus mendengarkan ia bicara.
Menekankan : è Hanya dengan demikian kita dapat mengetahui orang lebih dalam tentangnya.
Merinci : è ada orang yang pada pandangan pertama saja menimbulkan simpati atau antipati pada diri kita, tapi tak mustahil kesan itu berubah setelah kita berbicara dan bertemu dengannya.
Menekankan : è Demikian juga dengan buku
è sebelum membacanya, perasaan antipati sebaiknya disimpan dulu.
è Mungkin berubah kalau kita sudah membacanya.
Merinci : è Dan kalaupun kelak tetap tidak menyukainya, kita akan dapat mengemukakan sebab-musababnya.
è Adalah lebih baik kita tidak menyukai sesuatu atau seseorang setelah kita mengetahui sebab-musababnya daripada secara apriori belaka.
Menekankan : è Apalagi menyukainya!

Peranan yang dimaikan oleh kalimat yang lebih panjang dibanding dengan kalimat yang lebih singkat, jelas sekali pada contoh ini.
, alasan tertenru, data, dan lain sebagainya.
3 Variasi dalam Struktur Kalimat
Adanya berbagai struktur kalimat dalam sebuah alinea juga besar artinya dilihat dari sudut variasi. Alinea yang demikian biasanya lebih menyenangkan, tidak seperti membaca alinea yang struktur kalimatnya sama semua. Ini senantiasa dijadikan sasaran apabila mereka menginginkan karagaman struktur. Yang di dalamnya bisa dijumpai kalimat sederhana, kalimat luas, maupun kalimat gabung. Keragaman juga melingkupi berbagai macam pola lain yang terbentuk akibat menggeser unsur-unsur tertentu. Misalnya, pola yang tersusun akibat cara memulainya yang khusus. Termasuk pola yang kita kenal dengan istilah inversi, kalimat aktif, dan kalimat pasif.

4 Variasi dalam jenis kalimat
Dengan menggunakan berbagai jenis kalimat dapat menghasilkan berbagai jenis variasi. Di samping kalimat berita, juga digunakan kalimat tanya, kalimat pinta, dan kalimat seru. Begitu pula di samping kalimat tidak langsung juga digunakan kalimat langsung. Berdasarkan fungsinya kalimat dibedakan menjadi empat jenis.
Kalimat berita, kalimat yang berfungsi memberitahukan sesuatu.
Kalimat pinta, fungsinya menyatakan kehendak, keinginan, harapan, dan lain sebagainya.
Kalimat tanya, kalimat yang menyatakan pertanyaan.
Kalimat seru, berfungsi menyatakan perasaan yang kuat. Misalnya perasaan haru, kagum, heran, benci, jengkel, kecewa, dan sebagainya.
Disamping kalimat tersebut, ada lagi kallimat lain yang di sebut kalimat langsung dan tidak langsung. Disebut kalimat langsung apabila menyatakan ucapan-ucapan orang lain menurut apa adanya. Bila ucapan seseorang dilukiskan dengan kata-kata dan kalimat sendiri, dengan maksud yang sama maka hasilnya adalah kalimat tidak langsung.
4.1 Variasi dengan Kalimat Tanya
Kalimat tanya ternyata efektif untuk menghasilkan variasi kalimat dalam karya tulis. Memang sukar untuk menampilkan kalimat tanya dalam setiap alinea karangan. Dalam tiap karangan biasanya selalu ada bagian yang khusus memberikan informasi. Di sini kalimat beritalah yang terutama memainkan peranan. Akan tetapi, sebuah karangan tidak begitu menarik apabila di dalamnya hanya terdapat kalimat berita atau ditambah dengan kalimat pinta bagaimanapun halusnya cara penyampaiannya. Dengan kalimat berita saja, penulis berarti omong sepihak saja. Untuk itu kalimat tanya diikutsertakan. Dengan sekali-kali menampilkan kalimat tanya berarti pembaca seakan-akan diajak turut serta dalam pembicaraan itu. Kalimat tanya tidak selamanya bersifat menanyakan karena tidak tahu, akan tetapi juga dapat digunakan untuk keperluan variasi. Sebuah kalimat tanya misalnya, mengapa, apakah, bukankah, benarkah, bagaimana kalau, dan lain sebagainya.

4.2 Variasi dengan Kalimat Seru
Namanya saja kalimat seru. Suatu permainan bisa menjadi lebih seru manakal ia dapat berperan secara tepat. Dalam sebuah karangan, kalimat seru bukan membuat bacaan menjadi lebih seru, melainkan berfungsi membahasakan ekspresi-emosional yang kuat.

4.3 Variasi dengan Kalimat Langsung
Variasi dengan kalimat langsung dapat diuashakan dengan kalimat langsung. Dalam memaparkan ucapan atau pendapat orang tentang sesuatusoa, penggambaran dengan kalimat langsung biasanya lebih kongkret. Banyak sumber untuk menghasilkan kalimat langsung dalam suatu karya tulis. Seperti hasil wawancara, atau tanya-jawab, pidato, atau ceramah, sebuah buku, ucapan seorang pelaku dari sebuah cerita fiksi. Beberapa ucapan yang kita rasa penting, dan yang kita anggap ucapan ekspresif, kita tampilkan dalam bentuk kalimat langsung.





















BAB IV
KESIMPULAN
Kalimat efektif itu mampunyai tenaga gaib yang dapat manggerakkan tenaga, hati, pikiran dan emosi orang serta dapat menyuruh orang menangis, tertawa dll. Sebaliknya, ada juga kalimat yang tidak bertenaga karena disebabkan oleh pemikiran tentang “apa yang dikatakan”soal gaya bahasa adalah hasil dari pemikiran tentang “bagaimana mengatakan sesuatu”. Gaya kalimat di dalam karyatulis dapat tercipta melalui suatu cara yang umum,yaitu memaparkan apa yang dimaksud dengan langgam bicara. Untuk dapat menghasilkan kalimat dengan langgam bicara ini harus dapat memilih kata dan tentng konstruksi yang efektif
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih kata ialah:
Ø menentuka kata yang tepat ,kemudin memakai pada kata yang tepat
Ø manjauhkan kata klise
Ø memberkan konotasi yang tepat pada suatu kata
Kalimat efektif itu berfariasi,variasi kalimat dapt diusahakan lewat empat cara dengan cara memulainya,menentukan panjang singkatnya, keragaman struktur atau polanya, dan menyelang-nyalingnya dengan kalimat Tanya, kalimat seru, dan kalimat langsung.